Saturday, February 15, 2014

ikan hias atau jerapah

Ketika raditya dika memiliki novel dengan nama2 hewan sebagai judulnya, maka saya memilih nama hewan sebagai judul dari curhatan saya.

Ikan hias atai jerapah, ya saya memanggilnya begitu sedangkan ia lebih memilih memanggil saya dengan koala, ayam, atau ulat bulu, atau juga ikan paus. Dia memanggil saya koala saya pun tak mengerti alasannya, dia memanggil ayam karena dia suka ayam. Ayam itu enak dan bisa dimakan katanya, entahlah saya tak mengerti pikirannya. Dia memanggil saya ulat bulu, soalnya ulat bulu menjijikan. Kebanyakan orang akan merasa geli dan gila saat melihat ulat bulu. Dia memanggil saya ikan paus, karena ikan paus lucu. Tak mau kalah saya pun memanggil nya ikan hias, karena saya hobi dengan ikan hias. Selain itu saya pun memanggilnya jerapah karena ia tinggi kurus seperti jerapah. Ya walau begitu dia memberi inspirasi dan motivasi buat saya.

Semua berawal malam itu ketika kita semua berkumpul, bulan terang dan keadaan kota bandung saat itu sangat penuh dengan mobil dan motor. Saat itu sang jerapah menceritakan kehidupannya, layaknya kehidupan keras seekor jerapah yang hidup di gurun afrika. Seperti jerapah yg harus d tinggal oleh induk nya agar sang anak bisa mandiri dan terus bisa hidup d tengah kehidupan gurun yang keras. Seperti seekor pinguin yg ditinggal induk nya saat berusia beberapa bulan agar si pinguin bisa belajar hidup mandiri.

Saya tak ingin menceritakan kehidupannya, saya hanya ingin menceritakan betapa banyak hal yang saya pelajari dari seekor jerapah. Oke, beberapa hal yg saya pelajari dr sang jerapah. Pertama, jangan pernah banyak mengeluh dalam menjalani hidup, mau bagaimanapun juga hidup ini adalah salah satu nikmat yg Allah berikan kepada kita. Nikmati hidup yg kita jalani, walau banyak hal perih yg kita lalui tapi percayalah dibalik kesulitan itu ada kemudahan, dibalik permasalahan itu ada solusi, dibalik kegalauan itu ada banyak hal yg kita dapat pelajari. Ia mengajari saya kalau hidup ini sangat lah keras, tp walaupun begitu kita jgn pernah menyerah dalam menjalani nya. Ya, itu yang saya lihat dari kesehariannya.

Kedua, jerapah selalu memiliki induk, itulah sebabnya dia ada di muka bumi ini, begitu pun hewan2 lainnya. Induk merupakan sosok yg menjadi panutan bagi anak, ia menjadi tempat berlindung bagi anak. Induk selalu melakukan yang terbaik bagi anaknya, walau pun terkadang ia harus melakukan hal yang membahayakan nyawanya, tapi yg terpenting ia bisa melindungi anaknya. Nah dari situ lah saya belajar lagi satu hal, dalam menjadi sosok orang tua kita harus melakukan yg terbaik untuk anak kita. Menjadi orang tua tidak lah mudah, jerapah mengingatkan saya dengan hal itu. Menjadi orang tua itu tandanya kita harus siap melakukan apapun untuk sang anak, terutama untuk sang jantan, karena bagi jantan melindungi sang betina dan anak2 adalah suatu kewajiban yg sangat wajib. Dari hal itu saya belajar, kalau saya harus menyiapkan segala sesuatunya untuk masa depan saya, untuk keluarga saya. Sulit memang, namun kembali ke pelajaran pertama yg saya dapat, sesulit apapun hidup itu harus lah tetap berjalan.

Pelajaran ketiga, terlambat itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, pelajaran ketiga ini yg memang benar2 sangat sulit saya dapatkan karena saya butuh waktu yang sangat lama untuk bisa berfikir dingin dan menarik kesimpulan dari semua pengalaman yg saya alami. Terlambat, memang bisa di bilang saya sangat terlambat untuk mengenal jerapah. Coba saya mengenal jerapah lebih awal, mungkin saya bisa mendapat pelajaran lebih banyak lagi, dan mungkin masih banyak hal yg bisa saya dapatkan. Semua penyesalan begitu banyak saya renungkan, hingga akhirnya saya mendapat pelajaran yg terakhir yaitu pelajaran yg keempat, ikhlas dan bersyukur. Terlambat itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali, terlambat mengenal jerapah itu jauh lebih baik daripada tidak mengenal sama sekali. Jika saya tidak mengenalnya sama sekali, maka tidak ada satu pun hal yg saya pelajari. Dan saya pun wajib bersyukur karena saya sudah mengenalnya, karena saya percaya dengan bersyukur maka Allah akan memberikan kita nikmat yg lebih. Sekarang hanya lah tawakal, berserah diri, menunggu, menunggu dan menunggu sampai nikmat yg Allah janjikan itu datang. Yaa, sampai saat ini saya masih berfikir kalau itulah pesan yg ingin Allah sampaikan kepada saya sebagai hamba Nya. Dan mungkin pesan lainnya, jangan pernah berhenti untuk belajar, karena belajar bisa dari mana saja. Banyak hal yg bisa kita baca, tidak hanya tulisan yg tertera pada buku.

No comments:

Post a Comment