Oke well, satu hal yang tidak pernah kita sangka dari perjalanan menuju ujung genteng yaitu kita harus ngelewatin kebun teh. Kebayang gak sih gimana jauhnya perjalanan ke ujung genteng? yang jelas kita berjalan dari pantai, masuk kehutan trus kebun teh turun lagi ke hutan dan akhirnya kembali ke pantai. Dan kebun teh menjadi kejutan pertama yang kita lalui. Kenapa? soalnya dari kita ga ada yang nyangka satupun kalo kita bakal ngelewatin kebun teh, termasuk gilang. Dan alhasil, kita berhenti untuk berfoto :D
Setelah beristirahat sambil berfoto, kita melanjutkan perjalanan dan ngga lama setelah itu gerimis mulai turun dan kebetulan ada warung hingga akhirnya kita beristirahat lagi sambil makan timbel yang dikasih oleh mamah nya gilang (kalo ga salah sih manggilnya bukan mamah tapi emak :D kidding). Sebenernya satu hal yang gue lupa ucapin dan gue baru inget waktu makan, "makasih mamah gilang, timbelnya sangat berguna buat kita-kita yang sangat sengsara ini :D".
Tak usah terlalu lama cerita, anggap saja kita sudah sampai di ujung genteng. Saat itu pukul 16.00 tepat dan hal pertama yang kita lakukan adalah mencari spot untuk menginap. 16.30 kita mendapat spot untuk bemalam dan hal yang ingin saya tekankan untuk menuju tempat tersebut kita harus menembus hutan bakau sekitar 100 meter. Nih fotonya
Saat itu pukul 17.00 dan kita sudah selesai dengan tugas masing-masing tapi masih ada tugas yang kita belum selesaikan yaitu solat Ashar. Ini adalah moment dimana saya benar-benar merasa bersyukur karena saya berada dilingkungan orang yang masih ingat Allah. Radi pernah berkata, "Allah mah Maha Adil, orang baik ngumpul sama orang baik kalo sekiranya orang tersebut belum bisa ngajak orang jahat jadi orang baik". Sebernernya itu yang dikatakan Radi saat malam tiba dan gilang+A.M sudah tidur diatas ranjang. Selain itu, saya sempat merenung saat saya melihat mereka solat, suatu renungan dengan pertanyaan, "mungkinkah perjuangan seperti ini yang dahulu Rosul dan sahabatnya lakukan saat beliau hijrah?untuk solat pun membutuhkan perjuangan yang keras, wajar kalau mereka masuk surga."
Ini bukti kalo kalian ga percaya, berasa model iklan adzan magrib :D
Anggap solat sudah selesai, setelah itu kita masak dan Radi jadi Chef nya.
Oh iya, sedikit penegasan kalo kita kesana tuh ga bawa apa-apa, hanya panci, ingat hanya panci. Kita solat di mushola yang dibuat dalam waktu 3 menit dan bersajadahkan jas hujan/ponco karena kita ga bawa matras dan memang kita tidak memiliki rencana untuk bermalam dipantai.
Radi pun memasak mie di kitchen yang dibuat dalam waktu 15 menit lengkap dengan kitchen set nya. Konyol kita tuh, setelah mie mateng Radi bertanya gimana caranya ngambil mie dari panci? pake tangan? Come on guys, it's not debus. Dan begonya kita, kita baru ngeuh kalo kita ga bawa sendok atau garpu setelah radi bertanya. Bukan cuman itu, kita makan alasnya pake apa?jas ujan lagi?gila itu jas ujan multifungsi banget kalo gitu. dan solusinya adalaaaah kita mencari ranting bercabang 3 untuk pengganti garpu, untuk alas makan saya minta kertas bungkus nasi di pasar saat saya membeli bahan makanan dan ikan laut. Sebenarnya ada satu hal lagi, kita kan masak mie goreng dan pertanyaannya bagaimana cara mencampur mie dengan bumbunya? Otak gilang berpikir dengan sangat cepat dan memberikan solusi yang sangat perfect. Mie dan bumbunya di masukkan kedalam pelastik dan dikocoklah pelastik itu layaknya mengocok batagor yang dibeli di sekolah-sekolah SD. That's brilliant dude, mission complete! It's time for dinner.
Makan selesai, solat Magrib di mushola, dan setelah itu buat perapian. Beberapa dari kita terlihat kelelahan, jadi beberapa orang beristirahat di sofa yang sudah disediakan.
Api sudah jadi, selanjut nya kita bakar ikan. Oh iya, ingat ya kita hanya membawa panci, hanya panci, kita membersihkan ikan menggunakan cutter tumpul yang A.M punya. Untungnya cutter nya ga karatan jadi ga masalah, tapi yang jadi masalah sekarang cutter berjasa itu entah hilang kemana :D . Malam itu gelap sekali, dan kita memiliki masalah dalam penglihatan terutama untuk memastikan apakah ikan sudah matang atau belum, dan untungnya Vinda tanggap, ia memiliki korek api gas yang ada senternya jadi masalah teratasi kembali.
Malam semakin larut, dan kita pun terlarut didalamnya. Gilang dan A.M sudah mengambil posisi tidur sedangkan saya, Vinda dan Radi masih nongkrong di perapian sambl bercerita ria. Banyak hal yang kita ceritakan mulai dari bagaimana masa kanak-kanak kita, dulu Vinda bermain masak-masakan sampe-sampe ia ngambil ikan di aquaium untuk di masak di katel plastik yang suka dijual di Sekolah-Sekolah SD, saya bermain BP(karton bergambarkan boneka barbie yang bisa ganti-ganti baju) dan selalu berperan sebagai bapak atau kakak laki-laki yang kerjaannya pergi sekolah/kerja, pulang, renang dan pergi ke perta ulang tahun, sedangkan Radi? ia bercerita begitu banyak yang bahkan kalau saya ceritakan disini, Journey to Pelabuhan Ratu akan menjadi 5 part. Tapi yang jelas, pengalaman dia dan cara berpikir dia telah menjadi guru hidup saya. Saya menjadi harus terus merasa bersyukur dengan hidup saya sekarang. Banyak quote yang saya ambil darinya seperti, "Allah masih sayang sama kita, dan begitulah cara Allah menyayangi kita", ini quote seperti yang sepele tapi saya selalu berpikir tentang quote ini kalau saya sedang dalam keadaan sengsara. Quote lain, "tertawa saat sedih, diam saat senang", dia termasuk orang yang tidak pernah kelihatan susah padahal ia menjalani hidup dengan sangat susah, begitu kesimpulan yang saya ambil selama saya mendengar ceritanya di perapian. Dia termasuk orang yang selalu merasa senang walau dalam keadaan sengsara sekalipun, dan dari dia lah saya belajar bersyukur. Semua obrolan itu berlanjut hingga pukul 01.00 dengan ditemani secangkir kopi dan terang bulan yang langsung menyorot kearah kami, entah apa yang ingin Allah sampaikan saat itu tapi yang saya rasakan saat itu merupakan puncak dari perjalanan spiritual saya di journey ini dan saya benar-benar merasakan terdapat banyak pesan didalam obrolan yang sangat berkualitas itu.
Tepat pukul 01.00 banyak nelayan turun ke pantai untuk mengambil ikan yang kebetulan saat itu air laut sangat surut, kehebohan nelayan-nelayan tersebut membangun rekan-rekan saya yang tertidur dan memancing mereka untuk ikut turun ke laut. Saat itu yang turun gilang, A.M dan vinda dan hanya dibekali senter dari korek aip vinda. Saat itu saya merasa seperti orangtua yang mengawasi anaknya yang sedang bermain, dan terlintas dalam pikiran saya bahwa dahulu saya pernah menjadi anak-anak dan sebentar lagi saya akan menjadi orang tua bahkan kepala keluarga, dan pertanyaan terbesar muncul dalam pikiran saya, "apakah saya siap?", saya harus siap baik dari segi ekonomi maupun bimbingan kehidupan. 01.30 semua berkumpul kembali dan menceritakan hal yang baru saja ditemui di laut barusan. Setelah itu saya, gilang dan A.M tidur, sedangkan vinda dan Radi masih bercerita. Tak pernah disangka 02.30 terdengar pertengkaran mulut yang hebat antara Radi dan vinda, saya pun mulai membuka mata. Pertengkaran tersebut mendebatkan tentang awan mendung yang berada tepat diatas kita, mereka berdebat apakah hujan atau tidak dan ternyata gerimis pun turun, vinda menang dalam perdebatan itu. Sontak kita semua terbangun dan berbenah untuk berteduh tapi masalah nya kemana kita harus berteduh jam 02.30?apa kita harus ke pasar?tapi untuk menuju kesana kita harus melewati hutan bakau yang kita pikir sangat berbahaya dalam keadaan seperti ini untuk melewatinya dan akhirnya kita ikut ke tenda nelayan untuk berteduh. Kondisi yang sangat tidak terduga, terlebih lagi tenda tersebut sangat bersebelahan dengan hutan dan cukup menyeramkan. Ini adalah kondisi saat kita berteduh, dan saya pikir tidak semua orang sadar kalau saya mengambil gambar ini :D
Hujan masih turun, vinda pun ikut larut dengan saya dan kita berdua mencari mesjid. Saat itu terdengar adzan subuh sehingga lebih memudahkan kita untuk mencari mesjid. hujan pun reda, kita semua menuju mesjid. Di mesjid kita semua berbenah diri dan solat subuh. Surga banget rasanya nemu mesjid. Setelah selesai kita makan makanan paling hina, tau apa? mie, knp? karena mie adalah satu-satunya makanan opsi terakhir di berbagai kehidupan terutama kehidupan mahasiswa/anak kost, dan saya ingin menekankan kalo makan mie paling hina yaitu makan mie dengan cara di remes bukan diseduh, kami semua anggota power rangers sepakat akan hal itu. Bukan cuman itu, kita semua sepakat seharusnya cerita kita dengan mie instan ini di kirim dan dijadikan iklan mie instan di berbagai stasiun TV, lalu kita semua teriak di iklan tersebut, "INI CERITA KITA, KALAU CERITAMU?". Mie pun habis dan setelah itu kita tidur di teras depan mesjid dan bersiap untuk pagi harinya.
Semua terbangun, dan kita belum punya foto kalau kita telah mengunjungi ujung genteng hingga akhirnya kita berfoto dahulu sebelum kita pulang dan ini lah foto-fotonya.
Perjalanan pulang dimulai. Pukul 10.30 kita pergi dan perjalanan baru 1 jam tapi yang lain sudah mulai merasakan lelah. Dan akhirnya kita beristirahat di warung tengah hutan (sumpah susah nyari warung di hutan). Kita semua makan mie instan stok terakhir kita dan kita meminta si pemilik warung untuk menyeduhnya.
Oke, anggap istirahat di hutan selesai dan kita pun melanjutkan perjalanan kita. Perjalanan kita pulang berbeda dengan perjalan kita pergi dan kita baru melewati jalan ini dan sumpah ane ga bohong ini jalan JAUH BANGET! kita mau ke arah Sukabumi tapi ga nyampe-nyampe. Sekitar 4,5 jam kita baru nyampe Sukabumi dan jalan yang ditempuh pun sangat menggoncang pantat. Entah memang jalanya yang begitu panjang, entah ini jalan yang baru kita lalui atau entah karena kita kelelahan jadi perjalanan terasa sangat lama tapi yang jelas kita gamau lagi lewat jalan itu lagi :D . Perjalanan pulang ini kita sangat banyak beristirahat dan kita baru nyampe Cianjur sekitar jam 16.00, sampai di padalarang sekitar jam 18.00 dan saat itu kita semua berpisah. Ada satu hal yang mengetuk hati saya saat perjalanan pulang yaitu saat saya melihat pelangi diakhir perjalanan kita, setelah kita sampai Bandung dan tepat setelah kita berpisah. Saya yakin semua anggota power rangers ini melihatnya. Dan entah mengapa saya berpikir terdapat suatu pesan yang ingin Allah sampai kan, tapi yang jelas saya merasa perjalanan kita memiliki banyak pelajaran yang harus kita petik.
Ini adalah foto yang saya ambil di akhir perjalanan kita.
No comments:
Post a Comment