Berawal dari kata 'galau', saya baru mulai mengerti kekerasan hidup. Galau dan kekerasan hidup, sekilas kedua istilah tersebut tidak lah memiliki keterkaitan namun hal ini jelas saya tolak karena setelah saya melakukan penelitian dalam kehidupan saya sebagai mahasiswa akhirnya saya mendapatkan hasil bahwa galau dapat merubah perspektif orang tentang kerasnya hidup. Well, contohnya pada kalangan anak muda seorang siswa berprestasi yang setiap semsternya selalu disebut namanya untuk naik ke atas mimbar upacara karena prestasinya harus galau karena setelah ia lulus ia tidak terima di perguruan tinggi manapun dan akhirnya ia memilih untuk kerja di pasar kecil (mini market) dan saya pun dari situ mulai berpikir dan berkata dalam hati "keras gini hidup", contoh lain saat saya sedang menonton salah satu berita di TV yang berisikan seorang pria rela gantung diri karena diputuskan oleh kekasihnya. Sekarang coba anda bayangkan mengapa orang tersebut rela gantung diri? karena ia galau! Dan lagi-lagi saya berkata "hidup itu keras bung". Saya beri lagi contoh sederhana, saya pernah berbicara dengan rekan saya yang kebetulan beliau adalah seorang guru di salah satu SD swasta di kota saya tinggal, beliau bercerita kepada saya ada salah satu muridnya (cewe) "ngeceng" seorang siswa laki-laki dikelasnya dan pada suatu saat si siswa laki-laki tersebut "jadian" dengan temannya si cewe dan anda tahu apa yang terjadi setelahnya? si cewe marah dan langsung update status di facebook yang isinya kurang lebih "pengen bunuh diri", dan respon saya yang cocok untuk cerita tersebut adalah KERAAAS! Coba saja anda bayangkan siswa tersebut masih duduk di Sekolah Dasar dan masih kelas 5 SD, entah bagaimana seorang siswa sudah bisa merasakan kerasnya kehidupan mungkin efek dari tayangan TV yang (maaf) menurut saya tidak cocok ditayangkan.
Oke, sebenarnya semua cerita diatas ga ada hubungannya sedikit pun dengan judul yang anda baca karena memang cerita-cerita di atas saya tulis sebagai perasaan yang ingin saya bagikan kepada anda terhadap dinamika kehidupan sekarang yang semakin keras. Disini saya akan menceritakan tentang mahasiswa dan seni berkehidupan di kemahasiswaan. Untuk yang baru menjadi mahasiswa semoga kisah ini dapat menginspirasi anda atau mungkin dapat merendahkan saya sebagai pencerita, tapi itu semua terserah anda karena pilihan ada di tangan anda. Awalnya hidup sebagai mahasiswa itu bikin galau (oke, ktemu kata ini lagi), berawal dari ospek yang sebenarnya kita sendiri gamau ikut tapi gimana nasib kita kalau ga ikut. Kalo ikut bakal kebayang terus kerasnya ospek kya gimana (well, keras) kalo ga ikut lebih kebayang lagi waktu kuliah bakal tambah keras, ga punya kenalan senior men. Dan saran gue mending jangan ikut ospek tapi so asik sama senior. Setelah ospek masalah kuliah, nah ini dia yang menurut saya lebih parah galau nya daripada ospek. Suatu hari saya mengontrak mata kuliah dan tentunya dimana-mana yang namanya mahasiswa baru pasti lg semangat-semangatnya kuliah dan pasti rajin ngerjain tugas dan rajin masuk, begitu pun saya yang merasakan hal tersebut. Suatu saat setelah hasil studi keluar saya mendapat nilai BL(Belum Lengkap), sontak saya aneh mengapa nilai saya seperti ini padahal semua temen di kelas lulus dengan nilai minimal B. Akhirnya saya menghubungi dosen dan ternyata nilai yang saya dapat itu B bukan BL dan karena ada masalah birokrasi akademik jadi saya harus merubah nilai tersebut sesuai dengan tata cara yang sudah disediakan dan saya mengikutinya. Akhirnya, setelah saya selesai mengurusnya dosen terebut berbicara "oke, tunggu aja nanti juga berubah", tuturan kata yang membuat saya merasa lega tapi setelah saya tunggu 1 tahun nilai tersebut tidak berubah dan saya kembali menghubungi dosen yang bergelar doktor tersebut. Saat itu saya mengakui saya salah karena saya menghilangkan berkas nilai yang sudah di ganti, tapi saya tidak akan menghilangkan berkas tersebut kalo saya tidak dapat nilai BL. Saati itu doktor tersebut berkata "oke saya cari, tunggu aja nanti" sedangkan saat itu ada himbauan dari Universitas bahwa kita harus segera merubah nilai BL atau akan di ganti menjadi E dan saya tentu menceritakannya kepada dosen tersebut dan si dosen tetap bersikeras berkata "tidak bisa, lihat saja nanti".
Mungkin, anda yang membaca tidak mengerti apa yang saya ceritakan tapi ada juga yang mengerti apa yang saya ceritakan. Bersyukurlah kalian yang mengerti dengan apa yang saya ceritakan karena anda sudah merasakan seni menjadi mahasiswa, dan anda yang belum merasakan "lihat saja nanti". Oke, kesimpulan dari cerita yang saya ceritakan tadi adalah terkadang kita sebagai mahasiswa tidak bisa selamanya protes karena percuma protes toh kita tidak mendapatkan respon, tetaplah bersyukur dan coba untuk berdoa semoga dosen yang kita benci tidak mendapat doa buruk dari mahasiswa lain. Mahasiswa itu gudangnya galau, galau akademik, galau cinta, galau organisasi, galau finansisal, galau liburandan galau-galau lainnya, tapi percayalah galau itu pertanda kita akan naik menuju level yang lebih tinggi. Semakin sering anda galau, semakin cepat anda naik level. Seni menjadi mahasiswa itu terletak pada galau nya, tapi tetap kontrol galau anda untuk tetap berpikir positif
No comments:
Post a Comment